Ujian Akhir Semester
Kimia Organik II
Dosen
Pengampu : Dr.
Syamsurizal, M. Si
Nama
: TITIANTI
NIM
: RRA1C112016
Kelas
: Reguler Mandiri
1.
Dari cara
kerja hormon insulin, Apa idenya untuk membuat hormon insulin buatan ?
Jawab :
Hormon yang
paling berperan dalam mengatur kadar gula adalah hormone insulin.
Hormon ini dihasilkan secara alamiah oleh tubuh dari organ tubuh yang bernama pankreas. Pankreas terletak di dekat hati. Hormon insulin bertugas mengatur agar kadar gula dalam darah tetap seimbang ketika tubuh dalam keadaan tegang, lapar, ataupun kenyang. Cara kerja insulin adalah dengan mengubah gula ( glukosa ) yang berlebih dalam darah menjadi glikogen yang kemudian disimpan didalam hati untuk digunakan sebagai persediaaan. Kadar gula akan naik jika gula yang berasal dari makanan atau miniman yang masuk ke dalam tubuh telah masuk melalui dinding usus. Saat inilah pankreas akan membuat insulin. Seseorang akan
menderita Diabetes Mellitus apabila pankreasnya hanya dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang sedikit, atau mungkin pankreasnya tidak bisa menghasilkan insulin sama sekali.
Hormon ini dihasilkan secara alamiah oleh tubuh dari organ tubuh yang bernama pankreas. Pankreas terletak di dekat hati. Hormon insulin bertugas mengatur agar kadar gula dalam darah tetap seimbang ketika tubuh dalam keadaan tegang, lapar, ataupun kenyang. Cara kerja insulin adalah dengan mengubah gula ( glukosa ) yang berlebih dalam darah menjadi glikogen yang kemudian disimpan didalam hati untuk digunakan sebagai persediaaan. Kadar gula akan naik jika gula yang berasal dari makanan atau miniman yang masuk ke dalam tubuh telah masuk melalui dinding usus. Saat inilah pankreas akan membuat insulin. Seseorang akan
menderita Diabetes Mellitus apabila pankreasnya hanya dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang sedikit, atau mungkin pankreasnya tidak bisa menghasilkan insulin sama sekali.
Proses Pembuatan Insulin
Rekayasa genetika pada bakteria guna menghasilkan hormon insulin yang penting untung pengendalian gula darah pada penderita diabetes.
Tahap-tahapnya adalah sebagai berikut:
1. Tahap pertama dalam membuat bakteria yang bisa menghasilkan insulin
adalah dengan mengisolasi plasmid pada bakteri tersebut yang akan direkayasa.
Plasmid adalah materi genetik berupa DNA yang terdapat pada bakteria namun
tidak tergantung pada kromosom karena tidak berada di dalam kromosom.
2. Kemudian plasmid tersebut dipotong dengan menggunakan enzim di tempat
tertentu sebagai calon tempat gen baru yang nantinya dapat membuat insulin.
3. Gen yang dapat mengatur sekresi (pembuatan) insulin diambil dari kromosom
yang berasal dari sel manusia.
Gen yang telah dipotong dari kromosom sel manusia itu kemudian ‘direkatkan’ di
plasmid tadi tepatnya di tempat bolong yang tersedia setelah dipotong tadi.
4. Plasmid yang sudah disisipi gen manusia itu kemudian dimasukkan kembali ke
dalam bakteria.
5. Bakteria yang telah mengandung gen manusia itu selanjutnya berkembang biak
dan menghasilkan insulin yang dibutuhkan. Dengan begitu diharapkan insulin dapat
diproduksi dalam jumlah yang tidak terbatas di pabrik-pabrik.
Rekayasa genetika pada bakteria guna menghasilkan hormon insulin yang penting untung pengendalian gula darah pada penderita diabetes.
Tahap-tahapnya adalah sebagai berikut:
1. Tahap pertama dalam membuat bakteria yang bisa menghasilkan insulin
adalah dengan mengisolasi plasmid pada bakteri tersebut yang akan direkayasa.
Plasmid adalah materi genetik berupa DNA yang terdapat pada bakteria namun
tidak tergantung pada kromosom karena tidak berada di dalam kromosom.
2. Kemudian plasmid tersebut dipotong dengan menggunakan enzim di tempat
tertentu sebagai calon tempat gen baru yang nantinya dapat membuat insulin.
3. Gen yang dapat mengatur sekresi (pembuatan) insulin diambil dari kromosom
yang berasal dari sel manusia.
Gen yang telah dipotong dari kromosom sel manusia itu kemudian ‘direkatkan’ di
plasmid tadi tepatnya di tempat bolong yang tersedia setelah dipotong tadi.
4. Plasmid yang sudah disisipi gen manusia itu kemudian dimasukkan kembali ke
dalam bakteria.
5. Bakteria yang telah mengandung gen manusia itu selanjutnya berkembang biak
dan menghasilkan insulin yang dibutuhkan. Dengan begitu diharapkan insulin dapat
diproduksi dalam jumlah yang tidak terbatas di pabrik-pabrik.
2. Jelaskan mengapa
protein yang berperan penting dalam pertumbuhan rambut dan faktor apa yang
menyebabkan kebotakan ?
Jawab :
Secara
ilmiah, rambut memiliki unsur pembentuk yang sama dengan kulit dan kuku, yaitu
keratin. Keratin merupakan protein berserat yang terdapat di dalam sel-sel
epidermis, seperti kulit, kuku dan rambut. Oleh sebab itu, asupan protein
menjadi penting bagi pertumbuhan rambut itu sendiri.
Rambut
terdiri dari lapisan protein. itulah sebabnya, rambut tidak boleh kekurangan nutrisi yang satu ini.
Protein berperan dalam pertumbuhan rambut sekalius berfungsi untuk menguatkan
akar rambut. Kurangnya asupan protein dapat menyebabkan rambut rontok dan mudah
patah.
Beberapa faktor penyebab kebotakan :
- Faktor turunan, American Academy of Family Physicians menyatakan bahwa penyebab kebotakan yang paling umum adalah karena faktor keturunan. Jika orang tua mengalami kebotakan maka kemungkinan salah satu anaknya ada yang mengalami kebotakan juga.
- Hormon yang tidak seimbang, penyebab kebotakan karena hormon yang tidak seimbang seperti androgens dan estrogens atau tidak terlalu aktifnya kelenjar tiroid. Kondisi hormonal ini bisa diatasi dengan mengunjungi dokter dan melakukan perawatan.
- Efek setelah operasi, American Academy of Family Physicians mengatakan bahwa kebotakan kadang-kadang terjadi tiga atau empat bulan setelah menjalani operasi besar. Namun, setelah beberapa waktu berlalu rambut bisa tumbuh kembali.
- Pengaruh obat-obatan, beberapa pengobatan seperti pengencer darah, pengobatan untuk tulang, kemoterapi dan obat antidepresi bisa menyebabkan rambut rontok yang dapat memicu kebotakan.
- Akibat infeksi jamur, infeksi jamur yang terjadi di kulit kepala bisa menyebabkan kebotakan, sebaiknya segera diobati dengan obat anti jamur atau berkonsultasi dengan dokter kulit.
3. Bagaimana
mengkonversi lemak majemuk menjadi lemak sederhana ?
Jawab :
·
Lemak Majemuk
Lemak jenis ini bila
dihidrolisis akan menghasilkan alkohol, asam lemak dan senyawa lain seperti
fosfat, asam amino, basa organik, sepert kolin atau betain. Umumnya lemak
majemuk mengandung listrik atau paling tidak mempunyai pengkutuban muatan dalam
molekulnya, sehingga menjadi lebih mudah berinteraksi dengan air. Lemak Majemuk
ini ikut menyusun membran sel dan juga selubung sel dan serat syaraf.
·
Lemak Sederhana
Lemak jenis ini bila dihidrolisis akan
menghasilkan alkohol, biasanya berupa gliserol, serta menghasilkan asam lemak.
Contoh yang paling banak ditemukan adalah Triasilgliserol yang disebut juga
Trigliserida (TG), yang ditemukan antara lain dalam serum, dalam minyak kelapa
dan dalam berbagai minya lain yang berasal dari mahluk hidup. Yang dimaksud
dengan minyak adalah lemak yang dalam suhu ruang berada dalam bentuk cair ,
lemak yang dalam suhu ruang masih berbentuk padat disebut lemak saja. Biasanya
minyak berasal dari tumbuhan dan lemak dari hewan. Konsistensi cair atau padat
pada suhu ruang ini biasanya ditentukan dari jumlah atom C yang menyusun asam
lemak dari TG. Makin panjang atom C, biasanya makin padat. Dilain pihak, makin
banyak ikatan rangkap, konsistensi semakin cair. Lemak yang banyak mengandung
ikatan rangkap ini disebut asam lemak essensial, yang harus ada dalam makanan.
Lemak tumbuhan berupa minyak karena jumlah atom C-nya lebih pendek dan ikatan
rangkapnya relatif lebih banyak.
4. Komformasi
protein sangat menentukan fungsi biologis dari protein tersebut. Bila suatu
protein terdenaturasi , Jelaskan dampak penurunan fungsi biologis protein
tersebut ?
Jawab :
Denaturasi protein merupakan proses terjadinya perubahan
atau modifikasi terhadap konformasi protein yang terjadi pada struktur tersier
maupun kuartener dari protein.
Pada struktur tersier protein misalnya, terdapat empat
jenis interaksi pada rantai samping seperti ikatan hidrogen, jembatan garam,
ikatan disulfida, interaksi non polar pada bagian
non hidrofobik. Adapun penyebab dari denaturasi protein bisa berbagai macam,
antara lain panas, alkohol, asam-basa, maupun logam berat.
Ciri-ciri suatu protein yang mengalami denaturasi bisa
dilihat dari berbagai hal. Salah satunya adalah dari perubahan struktur
fisiknya, protein yang terdenaturasi biasanya mengalami pembukaan lipatan pada
bagian-bagian tertentu. Selain itu, protein yang terdenaturasi akan berkurang
kelarutannya. Lapisan molekul yang bagian hidrofobik akan mengalami perubahan posisi
dari dalam ke luar, begitupun sebaliknya. Hal ini akan membuat perubahan
kelarutan
Beberapa factor penyebab yang
ditimbulkan dari denaturasi, diantaranya :
1. Perubahan pH: penggumpalan kasein
2.
Panas
3. Radiasi: sinar X dan UV
4. Pelarut organic: aseton, alcohol
5. Garam-garam dari logam berat: Ag2+,
Hg2+, Pb2+
6. Pereksi-pereaksi alkaloid: asam
tannat, asam pikrat bisa menggumpalkan protein menurunkan infeksi.
7. Pereduksi: thioglikolat
Mekanisme dan dampak yang ditimbulkan dari
terjadinya denaturasi, yaitu
1. Panas dan Radiasi Sinar Ultraviolet
Proses panas dan radiasi sinar ultraviolet menghasilkan
gumpalan protein. Protein yang terdenaturasi lebih mudah tercernakan dan dengan
alasan inilah makanan yang mengandung protein perlu dimasak dahulu sebelum
dihidangkan.
2. Pelarut-Pelarut Organik
Pelarut etanol membentuk ikatan
hydrogen intermolekuler dengan molekul protein dan demikian memutuskan ikatan
hydrogen intermolekuler.
3. Asam atau Basa
Pereaksi asam atau basa memecah
ikatan hydrogen intermolekuler menyebabkan koagulasi protein. Bila protein
kontak lama dengan asam atau basa maka kemungkinan besar ikatan peptide
terhidrolisis sehingga struktur primer rusak sama sekali.
4. Ion Logam Berat
Ikatan ion antar molekul dipecah dan
menyebabkan protein mengendap sebagia senyawa protein-logam yang tak larut.
Sifat inilah yang memberikan kemungkinan beberapa garam logam berat digunakan
sebagai antiseptic.
5. Pereaksi Alkaloid
Pereaksi asam pikrat dan asam tanat
bersenyawa bermuatan positif pada gugus asam amino dan memutuskan ikatan ionic
intramolekul disebut juga pereaksi alkaloid karena kedua reaksi ini banyak
digunakan untuk mengidentifikasi alkaloid seperti morfin, kodein, dll.
5. Bagaimana
menggunakan energi dari lemak untuk berolahraga jelaskan secara kimia ?
Jawab :
Di dalam tubuh, lemak dalam bentuk trigliserida
akan tersimpan dalam jumlah yang terbatas pada jaringan otot dan akan tersimpan
dalam jumlah yang cukup besar pada jaringan adipose. Ketika sedang
berolahraga, trigliserida yang tersimpan ini dapat terhidrolisis menjadi
gliserol dan asam lemak bebas (free fatty acid / FFA) untuk kemudian
menghasilkan energi.
Pada olahraga dengan intensitas rendah sepeti jalan
kaki atau lari-lari kecil, ketika kebutuhan energi rendah dan kecepatan
ketersediaan energi bukanlah merupakan hal yang penting, simpanan lemak akan
memberikan kontribusi yang besar sebagai sumber energi utama bagi tubuh.
Kontribusi simpanan lemak sebagai sumber energi tubuh baru akan berkurang
apabila terjadi peningkatan intensitas dakam berolahraga.
Pada saat terjadinya peningkatan intensitas
olahraga yang juga akan meningkatkan kebutuhan energi, pembakaran lemak akan
memberikan kontribusi yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pembakaran
karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam tubuh. Walaupun pembakaran
lemak ini memberikan kontribusi yang lebih kecil jika dibandingkan dengan
pembakaran karbohidrat saat intensitas olahraga meningkat, namun kuantitas
lemak yang terbakar tetap akan lebih besar jika dibandingkan saat berolahraga
dengan intensitas rendah.
Pada saat berolahraga kompetitif dengan intensitas
tinggi, pengunaan lemak sebagai sumber energi tubuh akibat dari mulai
berkurangnya simpanan glikogen otot dapat menyebabkan tubuh terasa lelah
sehingga secara perlahan intensitas olahraga akan menurun. Hal ini
disebabkan karena produksi energi melalui pembakaran lemak berjalan lebih
lambat jika dibandingkan dengan laju produksi energi melalui pembakaran
karbohidrat walaupun pembakaran lemak akan menghasilkan energi yang lebih besar
(9kkal/gr) jika dibandingan dengan pembakaran karbohidrat (4 kkal/gr). Perlu
juga untuk diketahui bahwa jaringan adipose dapat menghasilkan asam lemak bebas
dalam jumlah yang tidak terbatas, sehingga kelelahan serta penurunan performa
yang terjadi pada saat berolahraga tidak akan disebabkan oleh penurunan
simpanan lemak tubuh.
